Selama kurang lebih 1 tahun 10 bulan mengikuti program pemerintah Papua di Institut Yohanes Surya di Serpong, Tangerang, akhirnya sekarang saya bisa kembali lagi berkumpul sama teman-teman di Papua. Rasanya sudah bukan anak sekolah lagi. Tiap hari yang ke sekolahan pake celana jeans, sekarang mesti pake seragam. Biasanya cari sepatu warna-warni, sekarang mesti pake sepatu hitam. Bayangkan lah, 1 tahun 10 bulan bukan waktu yang cepat. Dan sekarang kita harus kembali ke tempat asal, menyesuaikan diri dalam sisa waktu 3 bulan menuju Ujian Nasional.
Sekolahan masuk tanggal 3 Januari 2013. Dan seharusnya sehari sebelumnya semua siswa sudah ada di asrama untuk persipan belajar mengajar esoknya. Tapi, berhubung tanggal 3 jatuhnya hari Kamis(yaelah, tanggung banget!), jadinya banyak siswa memperpanjang liburnya sampai tanggal 6. Tapi, berhubung saya orangnya rajin(hehehe, muji diri sendiri), saya udah ada di barak dari tanggal 2 sore :D, hitung-hitung penyesuaian diri lah.
Malam Pertama, 3 Januari 2013
Homesick, jelas. Takut, jelas banget. Barak yang seharusnya dihuni 40 orang malam itu hanya dihuni 3 orang. Gubrak. Sunyinya menyaingi kuburan. Hiiiiiiii. Tapi malam itu, waktu berusaha bersahabat dengan suasana malam Buper-nama daerah sekolahan- yang membuat hati menciut, saya mendapati beberapa kalimat yang tercoret di lemari saya(maklum, waktu berangkat ke Serpong lemarinya sengaja tidak dibawa pulang, jadinya dicoret-coret sama kakak kelas yang mau lulus). Di situ tertulis :
"Jadikanlah kamar ini sebagai kenangan yang pernah kakak dan Ori lalui bersama. Luv u adikku." Sashia W XVI
"Kakak sayang Ori" Sashia XVI
"Tetap berdoa yah sayang" Angel XVI
Kakak Sashia itu kakak kamar yang paling baik. Dan kakak Angel itu sahabat kakak Sashia. Waktu baca tulisan-tulisan itu di lemari, terputar kembali kenangan-kenangan bersama kakak di kamar. Sekarang kamar menjadi sangat sepi. Rekan kamar saya sudah berlayar ke negeri kapuk meninggalkan saya dalam kesepian. (yee, lebay deh).
Malam Kedua, 4 January 2013
Masih sepi. Masih 3 orang doang.
Malam Ketiga, 5 January 2013
Barak mulai ramai. Anak-anak baru pulang dari libur panjangnya.
Malam dan hari-hari selanjutnya mulai di isi dengan kegiatan sekolah seperti pada umumnya. Saya sudah tidak merasa begitu kaku dengan keaadan ini. Bahkan saya mulai mencintai keakraban yang terjalin di Buper. Hidup berasrama bersama teman dan adik kelas, tinggal bersama, makan bersama, sekolah bersama, semuanya mulai terukir menjadi kenangan yang pada akhirnya membuat hati saya berat untuk meninggalkan sekolah ini.
Besok saya sudah melangkah pada tahap akhir perjuangan anak-anakSMA. Ujian Nasional. Tahap penentuan. Namun di sela-sela kesibukan mempersiapkan Ujian Nasional, saya berusaha menangkap dan menyimpan setiap momen berharga yang tak akan mungkin terulang lagi. Sedih rasanya membayangkan bahwa di lain hari kau bukanlah bagian dari sekolah ini, kau harus pergi.
Hehehe, sudah kelas XII tapi tetap ngeh ikut pertandingan bola basket. SMA N 3 sparing dengan Hillcrest International School.
Sekolahan masuk tanggal 3 Januari 2013. Dan seharusnya sehari sebelumnya semua siswa sudah ada di asrama untuk persipan belajar mengajar esoknya. Tapi, berhubung tanggal 3 jatuhnya hari Kamis(yaelah, tanggung banget!), jadinya banyak siswa memperpanjang liburnya sampai tanggal 6. Tapi, berhubung saya orangnya rajin(hehehe, muji diri sendiri), saya udah ada di barak dari tanggal 2 sore :D, hitung-hitung penyesuaian diri lah.
Malam Pertama, 3 Januari 2013
Homesick, jelas. Takut, jelas banget. Barak yang seharusnya dihuni 40 orang malam itu hanya dihuni 3 orang. Gubrak. Sunyinya menyaingi kuburan. Hiiiiiiii. Tapi malam itu, waktu berusaha bersahabat dengan suasana malam Buper-nama daerah sekolahan- yang membuat hati menciut, saya mendapati beberapa kalimat yang tercoret di lemari saya(maklum, waktu berangkat ke Serpong lemarinya sengaja tidak dibawa pulang, jadinya dicoret-coret sama kakak kelas yang mau lulus). Di situ tertulis :
"Jadikanlah kamar ini sebagai kenangan yang pernah kakak dan Ori lalui bersama. Luv u adikku." Sashia W XVI
"Kakak sayang Ori" Sashia XVI
"Tetap berdoa yah sayang" Angel XVI
Kakak Sashia itu kakak kamar yang paling baik. Dan kakak Angel itu sahabat kakak Sashia. Waktu baca tulisan-tulisan itu di lemari, terputar kembali kenangan-kenangan bersama kakak di kamar. Sekarang kamar menjadi sangat sepi. Rekan kamar saya sudah berlayar ke negeri kapuk meninggalkan saya dalam kesepian. (yee, lebay deh).
Malam Kedua, 4 January 2013
Masih sepi. Masih 3 orang doang.
Malam Ketiga, 5 January 2013
Barak mulai ramai. Anak-anak baru pulang dari libur panjangnya.
Malam dan hari-hari selanjutnya mulai di isi dengan kegiatan sekolah seperti pada umumnya. Saya sudah tidak merasa begitu kaku dengan keaadan ini. Bahkan saya mulai mencintai keakraban yang terjalin di Buper. Hidup berasrama bersama teman dan adik kelas, tinggal bersama, makan bersama, sekolah bersama, semuanya mulai terukir menjadi kenangan yang pada akhirnya membuat hati saya berat untuk meninggalkan sekolah ini.
Besok saya sudah melangkah pada tahap akhir perjuangan anak-anakSMA. Ujian Nasional. Tahap penentuan. Namun di sela-sela kesibukan mempersiapkan Ujian Nasional, saya berusaha menangkap dan menyimpan setiap momen berharga yang tak akan mungkin terulang lagi. Sedih rasanya membayangkan bahwa di lain hari kau bukanlah bagian dari sekolah ini, kau harus pergi.
Hehehe, sudah kelas XII tapi tetap ngeh ikut pertandingan bola basket. SMA N 3 sparing dengan Hillcrest International School.
Yah , walau pun tidak menang, yang penting kita happy :D.
Anak cowok memang hobbynya main basket. Lihat nih, wajah-wajah yang tidak pernah menyerah.
Saat-saat seperti inilah yang mungkin tidak akan terlupakan. Saat kita belajar bersama..
Saat kita tertawa, saling berbagi senyuman
Saat-saat kita selalu bersama :D
Sahabat, betapa bersyukurnya saya, karna kasih Tuhan, kita diijinkan bertemu di SMA3 Jayapura, sebagai kesatuan Angkatan Delapan Belas.
Untuk itu, dimana pun kita berada nanti, selalu andalkan Tuhan. Ingat kata Bpk. Paulus Gandeguai (Kepsek SMA N 3 Jpr)
"Biarpun kertas seluas langit, pena sebanyak rumput di padang, dan tinta sebanyak air di laut, tidak akan cukup menuliskan kasih Tuhan kepada kita"


Eehh.. sa pux tas kelihatan ;) :)
BalasHapus