Saya tahu ini bukan Hari Ibu, namun secara kebetulan hari ini sudah tiga kali dalam jangka waktu kurang dari 1 jam saya melihat 3 pos di sebuah media sosial yang terkait dengan kerinduan dan cinta seorang anak kepada ibunya. Hal tersebut membuat saya sejenak berpikir, wow, saya menemukan tiga orang di belahan bumi berbeda pada saat ini sedang merindukan ibu mereka. Apakah ini hari "Merindukan Ibu"? Haha. Tapi sejenak hal tersebut juga menarik saya memikirkan kabar ibu, atau lebih sering saya panggil mama, di rumah. Bagaimana kabar mama sekarang? Haah, saya begitu merindukannya. Entah kenapa, di antara anggota keluarga lainnya, dia adalah sosok yang selalu sangat saya rindukan. Padahal sewaktu kecil,saya ingat sekali seberapa sering saya suka ngambek ke mama,"Mama itu cerewet, suka laporin kalo kita(anak-anaknya) nakal ke papa," atau ,"Gak enak ah kalo jalan-jalan mama, pasti gak boleh beli macam-macam." Bahkan saya sempat beberapa kali kalau dimarahi sama mama atau kalau adik saya lebih dibela sama mama, saya suka menangis sambil berpikir," Huhu mungkin aku bukan anak mama kali, mama selalu belainya adik". Haha, tapi itu semasa SD. Sekarang tentu saya tidak pernah lagi beranggapan begitu.Semalam suntuk ini saya tidak tidur sama sekali. Bukan karena belajar atau hal penting lainnya, melainkan karena keasyikan menonton korean reality show, Roommate season 2, dimana ada 13 orang entertainer dari berbagai golongan dan umur ditempatkan tinggal di sebuah rumah. Mereka hidup bersama-sama dengan rutinitas mereka sehari-hari, namun kali ini mereka tinggal bersama-sama dengan orang-orang baru. Awalnya setiap dari mereka ada yang terbiasa tinggal sendiri, ada yang tinggal bersama orang tua mereka dan juga teman-teman sesama grup idol atau management mereka.
Dalam sebuah episode, diceritakan bahwa Jackson Got7(20), seorang Idol asal Hongkong, sudah selama 2 tahun tidak dapat berjumpa dengan ibunya. Dia begitu merindukan ibunya, sehingga dia bahkan dengan mudah tertipu dengan tipuan bahwa ibunya sedang berkunjung ke Korea untuk menemuinya. Kerinduan dan kekhawatiran Jackson bertambah karena ibunya di Hongkong sedang sakit. Ibunya bahkan tidak diperbolehkan oleh dokter untuk menaiki pesawat karena berbahaya bagi kesehatannya. Sedangkan ayah Jackson tidak dapt mengunjunginya karna harus bekerja mencari uang untuk keluarganya.
Di sebuah acara natal yang dibuat keluarga baru Jackson di Korea (Roommate), Jackson dikagetkan dengan kehadiran Ibundanya. Jackson yang selalu penuh dengan tawa, kali ini tidak dapat menahan air matanya ketika ia melihat sang ibu dan ayah memasuki pintu rumah. Ia berlari memeluk kedua orangtuanya, mereka melepas rindu dan menangis. Jackson benar-benar tak mempercayai ibunya sedang berada bersama-sama dengan di malam natal itu. Selama acara berlangsung bahkan hingga selesai ia tak dapat meninggalkan ibunya lama-lama jauh darinya. Ia terus memegang tangan ibunya, merawat ibunya yang sebenarnya sedang sakit, memijat-mijat kaki sang ibu, persis seperti seorang ibu dulu merawat anaknya sewaktu kecil. Suasana malam itu terasa penuh emosi cinta dan haru. Anggota Roommate lainnya juga sempat meneteskan airmata, bukan karna sedih, tapi mereka melihat hangatnya cinta yang hadir di tengah-tengah mereka malam itu. Hangatnya membuat mereka tidak menahan air mata mereka.
Sejujurnya apa yang dirasakan Jackson saat itu dapat saya rasakan. Ketika saya menonton episode tersebut, separuh diri saya hanyut bersama adegan-adegan yang terekam oleh kamera. Sungguh itu bukan adegan yang menyedihkan. Hanya saja saya merasakan betul emosi yang ada di momen itu. Sedangkan separuh diri saya yang lain sedang terbang ke rumah, memikirkan kabar keluarga. Terutama mama. Begitu jauh dari kampung halaman, berbahasa bahasa orang, belajar dan bekerja sendiri, membuat saya begitu merindukan kasih sayang seorang ibu. Seorang ibu yang selalu mendukung saya dalam berbagai masalah. Dan perasaan itu lebih terasa di saat-saat seperti Hari Natal. Melihat orang lain berkumpul bersama keluarganya membawa perasaan yang dingin di dalam hati. Di sisi lain saya berpikir bahwa saya belum boleh pulang, karena saya belum mendapatkan sesuatu yang dapat saya banggakan orang tua. Tapi di sisi lain, saya juga tidak dapat mengharapkan dan mengusahakan orang tua saya agar dapat berkunjung ke tempat saya.
Pagi ini telepon saya berdering, sebuah telepon dari papa. Entah kenapa, apa yang saya rasakan adalah rasa cemas. Saya tiba-tiba takut kalau terjadi apa-apa dengan keluarga. Tidak biasanya keluarga menelpon di hari-hari kerja. Perasaan saya memang sangat parno, mungkin karena barusan menonton reality show korea tersebut. Kekecewaan saya tidak terbukti. Puji Tuhan semua nggota keluarga sedang dalam keadaan sehat dan baik-baik saj. Mereka bahkan sedang sibuk-sibuknya, karena di Indonesia sekolahan sudah mulai kembali berjalan.
Di momen ini, saya membenarkan kata-kata yang mengatakan bahwa, keluarga dan orang yang kau benar-benar cintai adalah mereka yang kau rindukan ketika kau berada jauh dari mereka, jauh dari perhatian mereka, jauh dari bawelnya mereka.
Dan juga dari reality show semalam, dikatakan bahwa, hanya dengan melihat orang yang cintai, kau bisa menjatuhkan air mata. Bukan karena sedih, tapi ada emosi tersendiri yang tiba-tiba merasuki hati hanya dengan melihat orang yang kau kasihi.
Komentar
Posting Komentar